Di jalanan Indonesia, umumnya populasi sepeda motor terbilang lebih tinggi dibandingkan kendaraan bermotor lainnya. Harganya yang relatif lebih murah otomatis menjadi pilihan banyak orang.

Sepeda motor masih menjadi kendaraan yang banyak digunakan masyarakat, tak heran jalanan rata-rata  di penuhi dengan kendaraan roda dua satu ini. sehingga tak jarang kita temui kecelakaan di jalan yang melibatkan pengendara sepeda motor.

Karena pasti selalu ada potensi untuk mengalami kecelakaan lalu lintas. Bisa jadi disebabkan oleh kesalahan pengendara itu sendiri, atau pun terlibat kecelakaan yang diakibatkan oleh pengguna jalan lain.

Mungkin kita pernah menjumpai, kondisi di mana pembonceng justru mengalami cedera yang lebih parah dibandingkan dengan yang menyetir. Mengapa hal tersebut bisa terjadi ?

Fakta Penumpang Cedera Dibanding Pengendara

Berdasarkan Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) mengkonfirmasi  bahwa rata-rata kecelakaan yang melibatkan para pengendara sepeda motor yang berboncengan, risiko cedera terbesar justru ada pada si pembonceng.

“Pasti korbannya lebih fatal yang dibonceng, karena rata-rata yang dibonceng tidak siap, tidak melihat (situasi di depan) dan kurang waspada,”

Biasanya ketika kita posisi menyetir akan lebih siap ketika kecelakaan sudah tidak bisa dihindarkan karena posisinya yang berada di depan. Selain itu kita bisa memperhitungkan resikonya dan lebih leluasa mengarahkan ataupun menghindari walaupun risikonya tetaplah ada cedera.

Jadi jika kita pada posisi sebagai pembonceng, maka kita tidak boleh lengah selama perjalanan dan tetap memantau kondisi lalu lintas di depan. Jadi kita saat membonceng akan memiliki persiapan jika terjadi situasi darurat.

Mengurangi Resiko Cedera Bagi Pembonceng

Mitos atau Fakta ? Penumpang Dibonceng Lebih Berisiko Cedera Saat Kecelakaan
Untuk dapat mengurangi sebisa mungkin resiko yang tidak di inginkan penumpang atau pembonceng baiknya mengatur posisi duduk yang aman guna menghindari risiko cedera fatal saat terjadi kecelakaan lalu lintas.

“Kalau dalam kota sebenarnya duduk berjarak dengan rider 5-10 sentimeter, posisi tangan di paha sendiri dan paha menjepit rider. Saat kecepatan relatif tinggi berpegangan ke pengemudi untuk antisipasi emergency,”

Pembonceng juga memiliki resiko terpental jika terjadi insiden kecelakaan  yang membuat si pembonceng bisa mengalami luka yang lebih parah dibandingkan dengan pengendara.

“Pembonceng lebih riskan terlempar, karena mereka tidak seperti si pengendara yang berpegang ke setang motor. Lebih dari itu, penumpang juga tidak mampu mengantisipasi kondisi yang akan terjadi seperti pengendara,”